Bagaimana Cara Membedakan Design Thinking dan Design Sprint, Mana yang Tepat untuk Dipilih?

Bagaimana Cara Membedakan Design Thinking dan Design Sprint, Mana yang Tepat untuk Dipilih?

[full-width]
Semenjak industri startup di Indonesia menggeliat banyak para founder mencari cara untuk membangun produknya agar disukai oleh marketnya. Ada banyak cara agar produknya disukai oleh target marketnya. Dua cara diantaranya adalah menggunakan Design Thinking dan Design Sprint. 

Design Thinking adalah sebuah proses inovatif problem-solving yang berfokus pada pengguna atau user. Design Thinking sendiri dipopulerkan oleh David Kelley dan Tim Brown pendiri IDEO – sebuah konsultan desain yang berlatar belakang desain produk berbasis inovasi. Sedangkan Design Sprint adalah sebuah framework untuk tim dengan berbagai jenis ukuran untuk menyelesaikan sebuah masalah dan pengujian ide selama 2-5 hari.

Design Sprint merupakan proses metodologis berdasarkan Design Thinking. Tahu nggak sih perbedaannya seperti apa? Saya akan menggunakan analogi untuk menjelaskan perbedaan Design Thinking dan Design Sprint. Analogi yang saya gunakan adalah analogi dalam pembuatan makanan yang inovatif. Katakanlah 'Burger' merupakan produk inovatif yang akan kita selesaikan.

sumber: google

Jika inovasi merupakan alasan untuk menggunakan pola pikir seperti Design Thinking maka saya akan mendefinisikan lebih lanjut menggunakan analogi makanan agar lebih mudah dipahami. Jadi, Design Thinking merupakan sebuah kelas masak. Disitu kamu akan belajar mengenai filosofi belajar memasak, bagaimana cara kerjanya, apa sih bahan-bahan yang dibutuhkan, bagaimana menyiapkan item yang diperlukan. Jadi sekarang kamu punya 2 kunci utama yaitu inovatif produk (Burger) dan kelas masak.

Disinilah Design Sprint bekerja. Design sprint dalam analogi makanan merupakan sebuah resep. Di dalam resep kamu tahu betul apa yang dibutuhkan, apa saja bahannya, dan kapan waktu untuk melakukannya.

sumber: cookpad 

Mengikuti kelas masak merupakan hal yang keren, tapi tanpa resep. Kamu akan menghabiskan waktu hanya untuk mencari bagaimana membuat burger dengan cita rasa yang unik. Jadi, Design Thinking adalah dasar, filosofi, alat untuk inovasi. Dan layak dilakukan. Tetapi Design Sprint adalah salah satu cara hebat untuk mengeksekusi semuanya secara sistematis. Design Sprint dapat dilakukan di berbagai organisasi atau komunitas. Masih bingung? Coba perhatikan gambar berikut ini.

sumber: Medium
Zen Habits - Meraih Kesederhanaan, Kebahagiaan, dan Produktivitas dalam Hidup

Zen Habits - Meraih Kesederhanaan, Kebahagiaan, dan Produktivitas dalam Hidup


Leo Babauta seakan mengerti apa saja hal yang sebenarnya dibutuhkan oleh manusia. Buku ini merupakan bagian dari “Greatest Self-Improvement Books Series” dari Leo Babauta. Dalam buku ini Leo Babauta mengajarkan bagaimana hidup dalam kesederhanaan, tapi bukan berarti kikir ya!

Masing-masing orang tentunya memiliki jalan hidupnya, dan tidak akan mungkin setiap orang memiliki kisah yang sama. Dalam buku ini mengilas balik apa saja yang telah kamu lakukan selama hidup ini. Coba bayangkan, pernah nggak sih kamu merasa hanyut dalam kehidupan dan nggak tahu arah yang akan kamu tuju? Tiba-tiba kamu sudah tumbuh menjadi orang dewasa, dengan beban yang bertambah pula. 

Cobalah menjawab beberapa pertanyaan ini yang saya petik dari buku ini.
  1. Apakah kamu menekuni pekerjaan yang kamu sukai dan bukan pekerjaan yang kamu inginkan 
  2. Apakah kamu mengerjakan tugas-tugas yang diberikan kepada kamu ketimbang mengerjakan tugas-tugas yang kamu sukai ?
  3. Apakah kamu menghabiskan waktu kamu dengan sibuk bekerja ketimbang melakukan hal-hal yang ingin anda lakukan dalam sehari-hari ?
  4. Apakah kamu berharap dapat menghabiskan waktu lebih banyak bersama orang-orang terkasih ?
  5. Apakah kamu mendapati diri anda hidup dari gaji ke gaji atau utang, tanpa tahu kemana perginya uang kamu ?
Jika kamu sebagian besar menjawab pertanyaan ini dengan jawaban “Ya”, maka kamu terlanjur hanyut dalam kehidupan. Saya sarankan untuk membaca buku ini. Buat kamu yang ingin membeli dapat diakses disini bit.ly/zenhabitsbook

[full-width]
Tentang Rasa, Komitmen, dan Tujuan

Tentang Rasa, Komitmen, dan Tujuan

sumber: google

[full-width]
Terkadang terjebak dalam rasa tergesa-gesa dapat menjadi boomerang yang berujung kesalahan. Sebagai manusia rasanya belajar dari sebuah kesalahan menjadi pembelajaran yang tidak pernah berhenti, jika berhenti maka dipastikan sudah tidak bernyawa. “Long Life Learner” ucap seseorang kepada saya. 

Kesalahan dalam mengambil keputusan menjadi sebuah kunci untuk seseorang dalam memperbaiki keputusan berikutnya. Pengambilan keputusan dan zona waktu seseorang sering kali menjadi bahasan yang menarik. Mengambil keputusan juga identik dengan diri seseorang. Seorang guru pernah berkata kepada saya. “Hey nak, wajar jika kamu salah mengambil keputusan, terlebih lagi itu keputusan kamu. Jangan pernah membandingkan dirimu dengan orang lain. Tidak ada habisnya jika kau membandingkan ini itu. Perhatikan dirimu nak, apa yang sudah kamu capai selama ini, coba lihatlah kebelakang. Sejauh mana kamu telah berjalan menjadi manusia yang berproses?”. Ketika teringat nasihat tersebut, kembali lagi saya bersyukur apa yang telah saya lalui. 

Apa yang harusnya kita lakukan adalah bagaimana diri kita belajar dari ilmu kehidupan. Manusia dihadapkan dengan banyak lika-liku permasalahan, permasalahan seseorang tidak dapat kita samakan. Ketika kita mendapati suatu permasalahan, kita dituntut untuk memiliki kerangka berpikir, jika saya maka “Bagaimana kita menyelesaikan suatu masalah dengan rasa dan komitmen yang memiliki tujuan akhir sebagai solusi”. 

Mendengar seseorang berkeluh kesah dengan banyak masalah, bagi saya merupakan sebuah anugerah. Dari cerita tersebut mengajarkan kita arti bersyukur dan belajar dari masalah orang lain. Terlebih kita sebagai manusia telah dipercaya untuk mendengarkan sebuah simfoni kehidupan yang beragam. Inilah tentang rasa, komitmen, dan tujuan? Ini cerita saya, bagaimana ceritamu?